Cempaka Foundation Background

Selamat Datang

CEMPAKA FOUNDATION

COMMUNITY EMPOWERMENT TO MAKE CHANGES

Berita Terkait

Hutan Prigen, “Tandon Air” Jawa Timur Penjaga  DAS Kedunglarangan

Hutan Prigen, “Tandon Air” Jawa Timur Penjaga DAS Kedunglarangan

<p style="text-align: center; ;">Di lereng pegunungan yang membentang megah di kawasan Prigen, Kabupaten Pasuruan, tepat di kaki Gunung Arjuna–Welirang, kehidupan bermula dari sesuatu yang kerap luput dari perhatian: hutan. Ia tidak sekadar kumpulan pepohonan, melainkan fondasi yang menjaga keseimbangan alam sekaligus denyut kehidupan masyarakat di sekitarnya. Dari sanalah, kisah tentang Daerah Aliran Sungai (DAS)Kedunglarangan dimulai—sebuah bentang alam yang menjadi urat nadi Kabupaten Pasuruan.</p><p style="text-align: center; ;"> DAS Kedunglarangan membentang sepanjang 39 kilometer dengan luas mencapai 34.500 hektare, mengalir dari wilayah hulu di Kecamatan Prigen hingga ke daerah hilir seperti Gempol, Beji, dan Bangil. Namun, lebih dari sekadar aliran air, sungai ini adalah representasi keterhubungan antara hutan dan kehidupan manusia. Air yang mengalir ke hilir tidak lahir begitu saja, ia disimpan, disaring, dan dijaga oleh hutan-hutan di hulu, khususnya di lima wilayah utama: Kelurahan Prigen, Pecalukan, Ledug, serta Desa Dayurejo dan Sukoreno.Di wilayah hulu inilah, hutan memainkan perannya sebagai penjaga kehidupan. Akar-akar pohon yang menghujam tanah bekerja tanpa henti menahan erosi, mengurangi risiko longsor, dan meredam potensi banjir bandang.</p><p style="text-align: center; ;">Di saat yang sama, kanopi hijau yang lebat menjadi penyerap karbon alami, membantu menekan emisi dan menjaga stabilitas iklim. Tak heran jika kawasan Gunung Arjuna–Welirang kerap disebut sebagai “tandon air” Jawa Timur—sebuah julukan yang menggambarkan betapa vitalnya fungsi ekologis kawasan ini.Lebih jauh, hutan Prigen juga menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati yang tak tergantikan. Ratusan spesies hidup berdampingan di dalamnya—mulai dari mamalia, burung, hingga serangga seperti kupu-kupu dan capung—menciptakan ekosistem yang kompleks dan produktif. Kawasan ini juga memiliki kemampuan menyimpan karbon sebesar 31,7 ton per hektare, sebuah angka yang menegaskan kontribusinya dalam mitigasi perubahan iklim.Namun, nilai hutan tidak berhenti pada aspek ekologis semata</p><p style="text-align: center; ;"> Bagi masyarakat sekitar, hutan adalah sumber penghidupan. Sekitar 600 petani hutan menggantungkan hidupnya pada pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, terutama melalui praktik agroforestri seperti budidaya kopi. Selain itu, keberadaan sumber mata air seperti Dawuhan, Lajer, dan Alap-Alap menjadi penopang utama kebutuhan air harian masyarakat. Bahkan, Sumber Dawuhan saja mampu melayani hingga sekitar 44.000 individu per hari, sementara Sumber Lajer menopang sekitar 1.000 individu lainnya.Meski demikian, harmoni ini tidak sepenuhnya tanpa ancaman. Data menunjukkan bahwa kawasan hulu DAS Kedunglarangan menghadapi persoalan lahan kritis seluas 1.433,42 hektare, atau sekitar 4% dari total luas DAS.</p><p style="text-align: center; ;">Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan peringatan nyata bahwa keseimbangan ekosistem mulai tergerus. Alih fungsi lahan yang tidak terkendali berpotensi mengurangi tutupan vegetasi, melemahkan fungsi resapan air, dan pada akhirnya meningkatkan risiko bencana ekologis di wilayah hilir.Bayangkan jika hutan di hulu ini rusak. Air yang seharusnya tersimpan akan mengalir deras tanpa kendali, membawa serta tanah dan material yang memicu banjir serta longsor. Sumber mata air akan menyusut, bahkan hilang. Ekosistem yang selama ini menopang kehidupan akan terganggu, dan masyarakat menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya.</p><p style="text-align: center; ;">Di titik inilah, kesadaran kolektif menjadi kunci. Hutan di hulu DAS Kedunglarangan bukan hanya milik masyarakat sekitar, melainkan aset bersama yang menentukan masa depan lingkungan dan kehidupan sosial-ekonomi di Kabupaten Pasuruan. Upaya pemulihan lahan kritis melalui peningkatan tutupan vegetasi dan pengelolaan berbasis ekologi menjadi langkah mendesak yang tidak bisa ditunda. Wabakdu, pertanyaan yang tersisa bukan lagi tentang penting atau tidaknya hutan, melainkan tentang pilihan: apakah kita akan menjaga peran vitalnya sebagai penjaga kehidupan, atau justru membiarkannya perlahan hilang tergeser oleh pembangunan?Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan seperti apa masa depan yang akan diwariskan—bagi alam, dan bagi generasi yang akan datang.</p>

Hot News
KOLABORASI MULTI PIHAK DIPERKUAT UNTUK KONSERVASI HUTAN PASURUAN

KOLABORASI MULTI PIHAK DIPERKUAT UNTUK KONSERVASI HUTAN PASURUAN

PASURUAN – Cempaka Foundation bersama Pemerintah Kabupaten Pasuruan meresmikan Program Konservasi Hutan dan Daerah Tangkapan Air (KHDTA) Tahun 2026 di Alas Kesiman, Desa Sukoreno, Kecamatan Prigen, Senin (3/2/2026). Program ini menjadi wujud kolaborasi multipihak dalam menjaga dan memulihkan kawasan hutan serta daerah tangkapan air di Kabupaten Pasuruan.

Peresmian program tersebut dibuka oleh Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan Adinda Denisa. Acara ini turut dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Pasuruan, Yudha Tri Widya Sasongko, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasuruan, ADM Perhutani KPH Pasuruan, Kepala CDK Lumajang Wilayah Kerja Pasuruan, serta perwakilan 20 perusahaan mitra Cempaka Foundation.

Direktur Cempaka Foundation, Sarifudin Lathif, menjelaskan bahwa Program KHDTA telah berjalan selama enam tahun, sejak 2019 hingga 2025. Selama periode tersebut, lebih dari 97.747 pohon telah ditanam di lahan seluas 159,08 hektare dengan melibatkan 34 perusahaan mitra.

Pada tahun 2025, Program KHDTA berhasil menanam dan merawat 17.976 pohon di lahan seluas 25,6 hektare bersama 23 mitra dari unsur perusahaan dan pemerintah. Kegiatan tersebut dilaksanakan di kawasan hutan yang tersebar di enam desa dan dikelola oleh kelompok masyarakat.
Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi melalui Aplikasi BumiBaik, tingkat hidup tanaman mencapai 85 persen, sementara tanaman yang mati telah dilakukan penanaman ulang pada Desember 2025.

Untuk tahun 2026, Cempaka Foundation menargetkan penanaman 25.000 pohon di lahan seluas 35 hektare yang tersebar di delapan lokasi di Kabupaten Pasuruan. Hingga awal tahun ini, tercatat sudah ada 18 mitra perusahaan dan dinas yang berkomitmen mendukung Program KHDTA dengan total penanaman 20.250 pohon di lahan seluas 33,28 hektare.

Melalui Program KHDTA, seluruh pihak sepakat bahwa kunci utama pelestarian lingkungan di Kabupaten Pasuruan terletak pada kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga nonpemerintah, akademisi, komunitas, dan masyarakat dengan komitmen keberlanjutan yang kuat.

Hot News
Lestarikan DAS Petung, PT. Tirta Fresindo Jaya Tanam 9.750 Pohon di Desa Kemiri, Kec. Puspo.

Lestarikan DAS Petung, PT. Tirta Fresindo Jaya Tanam 9.750 Pohon di Desa Kemiri, Kec. Puspo.

Latest Updates
Komitmen PT. Etika Dairies Indonesia Dalam Menjaga dan Melestarikan Hutan serta Daerah Tangkapan Air (DTA), Tanam 1.000 Bibit Pohon Bersama Cempaka Foundation

Komitmen PT. Etika Dairies Indonesia Dalam Menjaga dan Melestarikan Hutan serta Daerah Tangkapan Air (DTA), Tanam 1.000 Bibit Pohon Bersama Cempaka Foundation

Latest Updates

Partner Kami

Partner logo Partner logo Partner logo Partner logo Partner logo Partner logo Partner logo Partner logo Partner logo

Framework Program Kerja

Kami mengembangkan program kerja dengan framework yang terstruktur untuk memberdayakan masyarakat dan melestarikan lingkungan. Framework ini mencakup pendidikan, konservasi, dan pengembangan ekonomi lokal yang berkelanjutan untuk menciptakan perubahan positif di sekitar kawasan hutan Cempaka.

Sosial Ekonomi
Sosial Ekonomi
Lingkungan
Lingkungan
Pendidikan
Pendidikan

Pendampingan Komunitas

Pembelajaran informal kepada komunitas petani dan Masyarakat umum

Pendidikan Lingkungan Hidup

Model pembelajaran di sekolah dengan bahan materi issue local termasuk program adiwiyata

Eduwisata

Pengembangan wisata berbasis informasi dan pengetahuan lingkungan

Dampak Ekonomi

Mengukur dampak kesejahteraan Masyarakat dalam usaha konservasi pengelolaan Kawasan

Program Cempaka Foundation

Caping Gunung

Kegiatan diskusi, workshop dan sharing antar komunitas

Agroprenuership Learning Community

Pengembangan dan pendampingan usaha kecil menengah masyarakat sekitar hutan berbasis hasil hutan non-kayu

Konservasi Hutan dan Daerah Tangkapan Air

Penanaman dan perawatan pohon di sekitar sumber mata air dengan metode Agroforestry

Riset dan Pengembangan

Penelitian tentang Hidrologi, Flora Fauna dan Carbon Stock

Sociopreneurship

Pengembangan Kawasan Ekowisata Hutan Cempaka

Cempaka Foundation logo with red flame and green leaves

Wanawisata Hutan Cempaka menawarkan beragam aktivitas dan program yang bisa dilakukan dengan venue dan fasilitas yang mendukung untuk kenyamanan serta kemeriahan aktivitas anda menjadi lebih berkesan.